Saturday, February 26, 2022

Catatan Satu Tahun Kepemimpinan Walikota Solo, Gibran Rakabuming Raka "Menagih Janji Lompatan Mas Wali"

 



Pada 26 Februari 2022 tepat satu tahun Pasangan Walikota dan Wakil Walikota Surakarta, Gibran Rakabuming Raka - Teguh Prakosa memimpin jalannya Pemerintahan Kota Surakarta.

Dewan Pengurus Daerah Partai Keadilan Sejahtera (DPD PKS) Kota Surakarta menyoroti beberapa poin capaian terkait kepemimpinan Mas Wali Gibran Rakabuming Raka di Kota Surakarta. Beberapa capaian ini dilihat dari janji kampanye yang disampaikan pada Pilkada di  akhir  tahun 2020 dengan membandingkan capaian yang diraih dalam satu tahun saat ini. 

DPD PKS Surakarta mengapresiasi capaian Mas Wali yang dinilai sudah baik seperti:

Pertama, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Solo pada tahun 2021 sebesar 82,62 naik sedikit dibandingkan tahun 2020 sebesar 82,21. (Data BPS Kota Surakarta, 2021)

Kedua, PKS Kota Solo mengapresiasi pembangunan mercusuar Kota Solo seperti Pembangunan rel layang (elevated rail) di Simpang Joglo, pembangunan Masjid Raya Sheikh Zayed di Solo.

DPD PKS Kota Surakarta memberikan beberapa poin catatan yang belum tercapai dari kepemimpinan Mas Wali sebagai berikut:

Pertama, capaian Pendapatan Asli Daerah (PAD) pada tahun 2021 menurun dibandingkan pada tahun 2020. Capaian PAD  pada tahun 2020 sebesar 475 M dan saat ini capaian PAD pada tahun 2021 sebesar  408M. Padahal, kondisi pandemi sudah berangsur membaik dan mereda. (DJPK Kemenkeu per 22 Februari 2022)  

Kedua, di satu sisi penduduk miskin di Kota Surakarta meningkat dari Tahun  2020 sebesar 9,03% menjadi meningkat di Tahun 2021 menjadi 9,4% atau 48.790 penduduk. Capaian ini menjadikan Kota Solo menempati posisi teratas kemiskinan untuk tingkat kota di Jawa Tengah.

Ketiga, Ruang Terbuka Hijau (RTH) publik di tahun 2021 baru sekitar 7,60% dari luas wilayah Kota. Padahal target capaian RTH adalah sebesar 20%. Di satu sisi, kebijakan pelepasan tanah milik pemerintah kota terus terjadi dan menjadi tantangan bagi terwujudnya RTH publik di Kota Solo. 

Keempat, Gaya Kepemimpinan MAs Wali yang kurang ngemong, sehingga walikota seperti di menara gading. Komunikasi kurang baik dengan stakeholder terkait. Contohnya dalam penataan sentra IKM Gilingan dan gaya komunikasi yang intimidatif seperti meninggalkan mobil dinas di sekolah dan pemecatan secara langsung lurah Gajahan tanpa mekanisme yang bertahap.  

Kelima, Masalah Ketertiban Administrasi mengenai Struktur Organisasi dan Tata Kerja (SOTK) pemerintah Kota Surakarta yang sudah diubah nomenklatur dengan Perwali Kota Surakarta baru namun, pembahasan APBD Tahun 2022 masih menggunakan nomenklatur lama.

Beberapa poin catatan ini seharusnya menjadi perhatian agar Pemerintahan Mas Wali Kota Solo ke depan lebih baik lagi. Terlebih Mas Wali mempunyai previlege sebagai putra Presiden RI. Semoga bisa mewujudkan janji lompatan yang pernah disampaikan saat masa kampanye dulu. 


Surakarta,24 Februari 2022

Ketua DPD PKS Kota Surakarta

Saturday, February 19, 2022

Hasil Survei Kinerja Gibran Sangat Baik, PKS: Wajar Anak Presiden

 


    DPD Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kota Solo menanggapi dingin hasil survei yang menyebut kinerja Gibran Rakabuming Raka sebagai Wali Kota Solo setahun terakhir sangat baik.

“Kalau menurut saya wajar, karena masyarakat itu kan melihatnya di permukaan yang langsung terasa,” ungkap Ketua DPD PKS Solo, Daryono, saat diwawancara wartawan melalui ponsel, Sabtu (19/2/2022).Sejak awal Daryono mengaku sudah menyatakan keberadaan Gibran sebagai Wali Kota Solo akan membuat kota ini dapat banyak keuntungan. Seperti banyak fasilitas untuk Kota Bengawan.

“Karena Gibran itu Wali Kota yang notabene anak Presiden. Dulu saya komentar insya Allah Solo akan dapat banyak fasilitas karena Gibran connect langsung dengan bapaknya. Proyek banyak yang datang,” terang dia.

Belum ada setahun Gibran memimpin Solo, Daryono melihat prediksinya itu sudah terlihat. Meski begitu, dia menilai capaian tersebut belum cukup. Dia ingin Gibran bisa lebih menyentuh esensi dari pekerjaan dan tanggung jawabnya.

Dari pengamatan PKS Solo setahun terakhir, masih ada sejumlah hal yang perlu dibenahi Gibran. “Bisa enggak beliau menyentuh sisi esensi dari pekerjaan atau tanggung jawab sebagai Wali Kota, karena banyak hal yang jadi catatan dari kami. Kalau sisi esensi loh ya ini. Kalau sisi permukaan, gebyarnya, ya wajar lah,” kata dia.

Namun Daryono enggan menyebutkan poin-poin apa yang masih kurang dari kinerja Gibran dan menjadi sorotan PKS Solo. Sebab materi lengkap catatan tersebut akan disampaikan dalam konferensi pers pada pekan depan.

Gaya Komunikasi Gibran

Dia mengakui ihwal komunikasi Gibran yang dinilai kurang bagus menjadi salah satu poin yang disoroti. Daryono lantas membandingkan gaya komunikasi Gibran dengan ayahandanya, Joko Widodo (Jokowi), saat masih menjadi Wali Kota Solo 2005-2012.

“Gaya komunikasinya [Gibran] itu kalau dibandingkan dengan bapaknya dulu jauh banget. [Jokowi] waktu jadi Wali Kota sangat mudah untuk berkomunikasi, bertemu, menyampaikan aspirasi,” aku dia.

Sedangkan Gibran setahun terakhir terkesan sulit untuk melakukan komunikasi dengan sejumlah pihak. Daryono juga menyoroti gaya Gibran meninggalkan mobil dinasnya di tempat bermasalah atau sedang membuat kesalahan.

“Itu kan intimidatif, gayanya intimidatif. Kalau untuk orang Jawa enggak pas lah. Apalagi Mas Gibran ini walaupun Wali Kota tapi masih muda. Seharusnya bisa mencoba cara komunikasi yang dalam ‘budaya Jawa’,” kata dia.

Daryono menilai seharusnya Gibran dengan berbagai privilese yang dimiliki mampu memberikan lebih dari apa yang sudah dilakukan setahun ini. Sebab Jokowi pun menurut dia bisa memberikan lebih walau tak punya privilese itu.

“Sebagai Wali Kota dengan privilese anak Presiden punya supporting unit yang tak bisa diabaikan, seharusnya bisa lebih dari ini. Dibandingkan Pak Jokowi yang tak punya privilese seperti itu bisa lebih baik dibanding Mas Wali,” urai dia.

Sumber : https://www.solopos.com

Friday, February 18, 2022

Pelantikan Pengurus dan Launching Youth Leader Academy Kota Surakarta



Generasi Muda (Gema) Keadilan Kota Surakarta menyelenggarakan pelantikan pengurus pada Kamis (17/2).  Acara ini sekaligus juga Launcing Program “Youth Political Academy” kota Surakarta, dilaksanakan secara offline di Ballroom Hotel Amrani Surakarta. Hadir dalam kegiatan tersebut adalah Quatly Alkatiri selaku Ketua Dewan Penasehat Gema Keadilan Jawa Tengah, Agung Budi Margono Ketua Gema Keadilan Jawa Tengah dan Agus Riyanto Ketua KNPI Kota Solo.


Dalam sambutannya, Quatly Alkatiri menyampaikan apresiasinya karena telah terbentuk Gema Keadilan Kota Surakarta sebagai ajang pemuda untuk saling berkolaborasi dalam kebaikan untuk kemajuan bangsa Indonesia. "Selamat bertugas untuk seluruh pengurus Gema Keadilan Kota Surakarta. Selamat memberikan warna yang positif dalam perjuangan memajukan Indonesia.", ungkapnya. 

Pengurus Gema Keadilan Kota Surakarta dilantik langsung oleh Ketua Gema Keadilan Jawa Tengah, Agung Budi Margono. "Mulai tahun 2021 Gema Keadilan berubah bentuk menjadi sayap organisasi dari PKS", jelas Agung.



Adapun Ketua Gema Keadilan Kota Solo terlantik, Saras Pramudya menyampaikan bahwa fokus   program Gema Keadilan Solo 5 tahun kedepan

"Membangun Pemuda yang Mandiri dan Manfaat.Mandiri secara Mental, Spiritual juga finansial, sehingga diharapkan akan berdampak pada sisi kemanfaatan yang dirasakan masyarakat sekitar.Program Gema diturunkan dalam beberapa kegiatan seperti training ESQ,pelatihan dan pendampingan wirausaha, outbond dan leader camp training, pelatihan bela negara,turnamen olahraga, dan beberapa program digital marketing yang dikemas sesuai dengan karakter dan kebutuhan anak muda."

Tuesday, February 15, 2022

Makjleb, Politikus PKS Solo Sebut Pola Komunikasi Gibran Kurang Baik

 



Pemerintah Kota (Pemkot) Solo di bawah kepemimpinan Wali Kota Gibran Rakabuming Raka mendapat kritikan pedas terkait pola komunikasi dengan masyarakat yang dinilai kurang baik. Pemkot dan Gibran diminta memperbaiki pola atau gaya komunikasi mereka kepada masyarakat agar program-program yang dibuat bisa berjalan baik.

Sejumlah kendala atau permasalahan yang muncul terkait program yang akan dijalankan beberapa waktu terakhir dinilai karena gaya komunikasi Pemkot Solo yang kurang baik. Wakil Ketua DPRD Solo, Sugeng Riyanto, menyampaikan pendapat tersebut, Selasa (15/2/2022).Menurut politikus PKS itu, ada beberapa program Pemkot yang tak berjalan dengan baik. Di antaranya rencana pembangunan Sentra Industri Kecil Menengah (IKM) di kawasan Pasar Mebel Gilingan, Banjarsari. Program tersebut ditolak mayoritas pedagang.

“Penolakan-penolakan ini kan tidak perlu jika Pemkot bagus dalam berkomunikasi. Itu kan tak serumit persoalan pemidahan PKL Banjarsari di era Pak Jokowi. Saat itu clear tanpa ekses. Ini [Pasar Mebel Gilingan] jauh lebih sederhana, jumlahnya juga sedikit,” ujarnya.

Sugeng juga menyoroti penolakan sejumlah pemilik toko terkait rencana penataan Jl Gatot Subroto (Gatsu). Ia menduga berbagai gejolak itu muncul disebabkan pola komunikasi Pemkot Solo dan Gibran yang kurang bagus. Ke depan pola komunikasi semacam ini harus dibenahi.

“Ini preseden tak baik. Pola komunikasi harus benar-benar didandani. Masyarakat sebetulnya hanya belum paham secara utuh apa yang dimaui Pemkot, dan sebaliknya. Intinya faktor komunikasi. Kalau tak diperbaiki, ke depan akan muncul gejolak yang sama,” katanya.

Politikus dari Daerah Pemilihan (Dapil) V Solo yang meliputi Kecamatan Jebres itu mengingatkan pentingnya prinsip memanusiakan manusia. Dalam konsep tersebut, pemerintah melibatkan masyarakat dalam setiap programnya, melalui komunikasi yang baik.

“Saya sarankan Pemkot, Wali Kota terutama, bangunlah komunikasi yang baik. Prinsip nguwongke uwong masih relevan. Menjadikan mereka objek, bahkan subjek pembangunan merasa di-uwongke, dilibatkan, diajak omong, aspirasi didengar dan dipenuhi,” urainya.

Disinggung usia Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka, yang masih terbilang muda, Sugeng menilai hal itu tak bisa menjadi alasan memaklumi pola komunikasi yang buruk. “Apa pun beliau tak sendiri, ada stakeholders mem-backup semua kebijakan. Saya kira itu tak bisa menjadi alasan,” tegasnya.Sugeng menyatakan saat ini partainya sedang membuat kajian tentang kinerja satu tahun pertama Gibran Rakabuming sebagai Wali Kota Solo. Dalam momentum satu tahun kepemimpinan Gibran, Februari 2022, Fraksi PKS (FPKS) DPRD Solo akan memberi penilaian.

Sumber: https://www.solopos.com/

Wednesday, February 9, 2022

Pimpinan DPRD Solo dari Fraksi PKS: Lepas Lampion Depan Pasar Gede dan Balai Kota!

 


Pemerintah Kota (Pemkot) Solo diminta segera mengambil langkah-langkah taktis terkait meningkatnya angka kasus Covid-19 beberapa hari terakhir, salah satunya melepas lampion di kawasan Pasar Gede dan Balai Kota.

Kebijakan menghentikan pembelajaran tatap muka (PTM) di sekolah mulai Senin (7/2/2022) dinilai tidak cukup untuk mengurangi potensi persebaran Covid-19. Dibutuhkan langkah-langkah lainnya agar pandemi bisa kembali terkendali dalam waktu dekat ini.


“Semangatnya adalah mengurangi atau menghilangkan peluang-peluang terjadinya kerumunan yang berpotensi menyebarkan virus,” terang Wakil Ketua DPRD Solo, Sugeng Riyanto, saat diwawancarai Solopos.com, Senin.

Kerumunan yang dimaksud Sugeng seperti event-event budaya, kesenian, hiburan, yang tidak menyangkut kebutuhan dasar masyarakat. Politikus PKS itu mengatakan Pemkot mestinya lebih fokus melarang kegiatan-kegiatan tersebut ketimbang menghentikan PTM.


“Artinya ketika PTM tiba-tiba diubah menjadi PJJ, maka kerumunan yang tidak menyangkut hal dasar hidup masyarakat mestinya juga dilarang oleh Pemkot Solo. Itu jika memang mau serius meminimalikan terjadinya risiko persebaran Covid-19,” urainya.


Terkait hal itu, Sugeng mengatakan sudah semestinya keberadaan lampion di depan Pasar Gede dan Balai Kota Solo dilepas atau diturunkan. Sebab event yang melatarbelakangi pemasangan lampion itu juga sudah lewat. Bila tak dilepas, lampion-lampion itu akan terus memicu kerumunan.

Kelengahan

“Iya lah, pasti, pasti. Event-nya kan sudah berjalan dan itu mengundang kerumunan massa. Ketika objeknya masih ada, kerumunan masih akan terjadi. Maka yang paling bijak saya kira dilepas dulu, kemudian kerumunan-kerumunan bisa dihindari,” katanya.

Soal langkah Pemkot Solo mematikan lampu lampion pada Minggu (6/2/2022) malam, Sugeng menilai itu tidak cukup. Faktanya masih saja ada orang-orang yang datang beberapa hari terakhir ini. “Faktanya setiap malam kan masih saja ramai. Lampion berpeluang memunculkan kerumunan,” ujarnya.


Sugeng mengatakan keberadaan lampion itu hanya satu dari sekian event yang berpotensi mendatangkan kerumunan. Pemkot Solo juga mesti bijak dalam menyikapi adanya event lainnya. Bila sekiranya tak menyangkut kebutuhan dasar warga sebaiknya ditiadakan.

Ihwal kerumunan dua malam berturut-turut beberapa waktu lalu karena keberadaan lampion depan Pasar Gede, Sugeng menilai sebagai kelengahan semua pihak. Mulai dari panitia, pemberi izin acara, hingga pembuat kebijakan yang membolehkan izin acara keluar.


“Saya tak bisa memaknainya selain kelengahan. Dalam hal ini banyak pihak yang harus bertanggung jawab. Event terjadi karena ada panitia, panitia bisa menjalankan karena ada izin. Izin diberikan karena ada kebijakan yang membolehkan event digelar,” tegasnya.

    

Thursday, February 3, 2022

PKS Ingin Perjuangkan Politik Berbiaya Murah dan Akuntabel

 


Jakarta -- Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Ahmad Syaikhu memaparkan agenda-agenda transformasi struktural yang akan diperjuangkan oleh PKS di berbagai bidang kehidupan berbangsa dan bernegara.

"PKS siap memperjuangkan agenda transformasi struktural di berbagai bidang kehidupan berbangsa dan bernegara seperti mulai dari politik, hukum, birokrasi, hingga ekonomi," ucap Syaikhu dalam pidatonya di acara penutupan Rakernas PKS, Rabu (02/02/2022).

Syaikhu mengatakan dalam bidang politik PKS akan mendorong proses terjadinya transformasi politik dari kondisi politik yang berbiaya mahal menjadi politik yang lebih terjangkau.

"Tingginya biaya politik adalah akar dari semua permasalahan politik di Indonesia. Semakin mahal biaya politik di Indonesia maka akan semakin besar peluang terjadinya korupsi. Oleh karena itu PKS sepakat dengan gagasan KPK tentang pentingnya agenda reformasi pembiayaan politik partai yang lebih transparan, akuntabek, dan mandiri," papar Syaikhu.

Syaikhu melanjutkan transformasi di bidang politik ini harus diikuti dengan transformasi di bidang birokrasi.

"Kinerja sebuah pemerintahan teeganrung pada kinerja mesin birokrasinya. Semakin efektif dan efisien mesin birokrasi itu bekerja maka akan semakin baik kinerja sebuah pemerintahan, kuncinya bagaimana kepemimpinan publik itu mampu menciptakan tatanan pemerintahan yang bersih, berintegritas, dan berwibawa serta bermartabat," kata Syaikhu.

Dalam bidang ekonomi, PKS memperjuangkan terwujudnya perekonomian nasional yang berdaulat dan berkeadilan.

"Bung Karno pernah merumuskan sebuah konsep Trisakti. Beliau mengatakan bahwa Indonesia sebagai bangsa yang merdeka harus memiliki tiga syarat yang dipenuhi yakni Indonesia harus berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan. Sudahkah kita sebagai bangsa berdaulat dan adil secara ekonomi?" tanya Syaikhu.

Syaikhu menekankan dalam UUD Tahun 1945 bukan hanya tentang konstitusi politik dan hukum semata namun juga adalah konstitusi ekonomi.

"Amanat konstitusi sudah sangat jelas. Pasal 33 ayat 3 menyatakan bahwa bumi, air, dan seluruh kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan digunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat," tegas Syaikhu.

    

Friday, January 28, 2022

"PKS, Kamulah Satu-Satunya"

 



Kamulah satu-satunya, yang ternyata mengerti aku. Maafkan aku selama ini, yang sedikit melupakanmu 


(sering dihujat, dicaci-maki dan difitnah bahkan ingin dibubarkan).



Segala santun yang kau endap dijiwaku. 

Tak terisak dulu kini kecapkan sesalku. 

Anyaman cintamu terkoyak buram mataku.

Kamulah satu-satunya yang ternyata mengerti aku.


Penggalan lirik lagu kamulah satu-satunya yang populer di tahun 90an milik Dewa 19. Boleh jadi seperti mewakili suasana batin rakyat Indonesia, ketika melihat fenomena partai politik saat  seringnya mengelabui rakyat. Kerinduan sekaligus rasa penyelesalan seseorang karena mengabaikan kekasihnya. Seperti menggambarkan  perasaan rakyat kepada PKS, sebuah partai politik yang terus menuai apresiasi.


PKS tampil beda dengan kebanyakan partai politik yang telah  menjadi alat kekuasaan dan instrumen oligarki. Bukan hanya sekedar mengambil Peran oposisional terhadap pemerintah. PKS juga rajin hadir dalam setiap kesulitan rakyat dan  kuat mengambil sikap tegas terhadap distorsi penyelenggaraan negara. Meskipun berada dalam kerangkeng demokrasi barbar yang serakah juga  feodal,  dan terjebak  jeruji parlemen yang angkuh dan primitif. PKS tetap tak melupakan asal usulnya yang dari rakyat, rendah hati dan melayani rakyat.


Berjuang sendirian  di tengah paduan suara bisnis kebanyakan partai politik. PKS berusaha survive dalam parlemen hasil dari sistem pemilu yang kapitalistik dan  transaksional. PKS sering terisolasi dari proses permufakatan jahat dan konspiratif.  Perencanaan, pembahasan, pengesahan dan penetapan UU, kerap dilandasi kepentingan oligarki dan kepemilikan modal.


Saat berjibaku menyerap aspirasi rakyat dan memahatnya pada dinding konstitusi. PKS sering mengalami turbulens politik. Sedikit tema yang berhasil menjadi produk konstitusi, namun banyak yang tersingkirkan oleh orientasi kekuasaan. Dalam menyikapi UU baik yang bersenyawa maupun khianat terhadap aspirasi rakyat. PKS selalu terbentur dan tertolak suara mayoritas parlemen. PKS terus terjebak berada dalam perangkap demokrasi liberal dan sekuler yang sejatinya mengebiri kedaulatan dan aspirasi rakyat.  


Jejak rekam PKS dalam pergulatan dinamika politik konstitusi, tak akan pernah bisa dihilangkan sejarah. Rakyat Indonesia juga belum amnesia, ketika PKS berhasil memperjuangkan UU perlindungan para ulama dan tokoh masyarakat. Begitupun saat rakyat membutukan, PKS bersama buruh dan mahasiswa serta elemen rakyat lainnya menolak UU omnibus law. Paling aktual ketika PKS menjadi satu-satunya partai yang menolak UU IKN yang dinilai membahayakan keberadaan dan eksistensi Panca Sila, UUD 1945 dan NKRI. Masih banyak lagi keberpihakan PKS pada program-progam populis dan menjadi denyut nadi rakyat.  PKS telah membuktikan, bahwasanya tetap setia dan istiqomah mengemban amanat penderitaan rakyat Indonesia. Berketetapan hati dan teguh menegakkan kebenaran dan keadilan, sekalipun dalam jalan sunyi kebangsaan.


PKS Menuju Partai Politik Ideal


Seperti menghadapi gelombang isu, intrik dan fitnah. PKS tak pernah lelah dan menyerah diterpa framing jahat berupa partai politik tempat bernaung agenda intoleran, radikal dan fundamental. Begitupun dengan agitasi dan propaganda politik identitas, mengusung khilafah dan pelbagai anasir anti Panca Sila, UUD 1945 dan NKRI. PKS bergeming, tetap tenang dan tidak reaksioner. Meski dikelilingi manuver sesak para buzzer, opportunis dan penjilat kekuasaan.


Sebagai partai berbasis agama yang mengedepankan dakwah dan pendidikan. PKS berhasil menjadi percontohan organisasi yang sistemik dan terukur dalam membangun partai kader dan entitas politik yang peranannya signifikan membangun nilai-nilai kebangsaan.


Partai politik yang lahir saat mengawali era reformasi  yang telah menjadi partai terbuka, bukan hanya berorientasi  kekuasaan dalam ranah konstitusional semata. Partai yang dikenal dengan karakteristik bersih dan santun ini, juga membuka ruang seluas-luasnya bagi keberagaman yang konstruktif. Dalam bingkai kebhinnekaan dan kemajemukan, PKS terus mengajak partisipan publik dan upaya kontribusi nyata dalam membangun negara bangsa Indonesia.


Dibawah kepemimpinan seorang Ustad Ahmad Syaikhu  yang dikenal luas memiliki ahlakul kharimah dan juga penghafal Al Quran itu. PKS telah mewujud sebagai salah satu  aset bangsa yang potensial dan prospektif, semakin menuju kedewasaaan politik. Politik kebangsaan yang menempatkannya sebagai partai yang religus nasionalis sekaligus nasionalis religius.


Seiring waktu, populisme PKS dan gairah interes publik. Menuntut PKS berdandan lebih humanis tanpa pencitraan semu kecuali dengan kerja tulus dan tujuan kemaslahatan. PKS sepatutnya tetap giat menjaga amanah dan kepercayaan rakyat. PKS harus mampu bekerja yang memikul dan terpikul natur Indonesia. Tat kala gotong royong, menjaga persatuan dan kesatuan bangsa serta mewujudkan cita-cita proklamasi kemerdekaan Indonesia adalah harga yang tak bisa ditawar-tawar.


Seperti senandung lagu Dewa 19 yang puitis dan bernuansa kasih sayang, namun penuh makna. Ada baiknya kesadaran massal di negeri ini menyimak.


PKS kamulah satu-satunya.




Penulis adalah Aktivis 98

Saat ini menjadi Pegiat Sosial dan Aktivis Yayasan Human Luhur Berdikari.

Banjir di Solo Makin Parah, Anggota DPRD Solo dari Fraksi PKS Minta Gibran Segera Atasi

 


Kota Solo diterjang banjir beberapa beberapa hari lalu.
Terjangan banjir di Kota Solo terjadi seperti di wilayah Tipes, Pajang hingga Pucangsawit.
Kasus banjir yang terjadi di beberapa wilayah di Kota Solo menjadi sorotan Sugeng Riyanto, anggota DPRD Kota Solo.
Sugeng yang menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD Kota Solo ini, meminta Pemkot Solo di bawah kepemimpinan Gibran, untuk segera mengatasi banjir.

"Harus ada langkah strategis yang diambil Pemkot Solo, baik dalam hal pencegahan maupun penanggulangan," ujar Sugeng kepada TribunSolo.com, Minggu (23/1/2022).
Menurut anggota Dewan fraksi PKS ini, Pemkot Solo harus segera mencari akar permasalahan banjir yang terjadi di wilayah Kota Solo.Kata Sugeng, hal ini sebagai pencegahan maupun penanggulangan banjir nanti."Pemkot harus merencanakan aksi yg berkesinambungan, dengan melibatkan semua pihak terkait, sampai selesai akar persoalannya," pungkasnya.


Banjir yang terjadi di Kota Solo, Jumat (21/1/2022), terhitung cukup parah.Indikasinya, Kampung Tipes RT 02 RW XIII Kelurahan Tipes, Kecamatan Serengan, Solo, yang sudah 14 tahun bebas banjir, akhirnya ikut kembali kebanjiran.Ya, terakhir kali Kampung Tipes kebanjiran pada tahun 2007 yang lalu, yang hingga sekarang tak pernah kebanjiran lagi. 


Baru pada Jumat (21/1/2022), Kampung Tipes kebanjiran, dengan ketinggian sekitar 70 cm. 
Hal itu disebabkan karena meluapnya Sungai Jenes yang berada disampingnya.
Meluapnya air hingga ke rumah warga tersebut, membuat warga sempat panik.
Lantaran kampungnya merupakan kampung yang bebas dari banjir selama ini. 

Ketua RT 02, Giyanto (42), mengatakan, setelah air naik ke permukaan, anak-anak dan lansia langsung diungsikan ke Balai Pertemuan Warga."Karena selama ini aman-aman saja, begitu air naik ke jalan, lansia dan anak-anak langsung diungsikan ke balai pertemuan yang diubah jadi posko pengungsian sementara," ujarnya kepada TribunSolo.com, Sabtu (22/1/2022). 
Warga pun secara spontan mengubah balai pertemuan Sukro Manis RT 02 menjadi pengungsian.

Di dalamnya, terdapat kebutuhan pengungsian seperti kasur untuk tidur bahkan ada dapur umum.
"Karena memang spontan saja, sebenarnya tidak menyiapkan apa-apa, untuk persiapan saja dan berjaga-jaga," jelasnya. Rencananya, posko pengungsian tersebut masih tetap dipertahankan, melihat cuaca buruk masih terjadi hingga saat ini. 

Untuk antisipasi saja, karena warga RT 03 juga mengungsi di sini, akan disiagakan selama masih musim penghujan ini," jelasnya. Bantuan pun juga mengalir ke warga Kampung Tipes yang terdampak banjir.Seperti dari pihak Kelurahan dan koramil, juga dari anggota DPRD. 

"Bantuan ini kami simpan dulu, mengingat cuaca masih seperti ini, kalau ada warga yang membutuhkan ya kami kasihkan," pungkasnya.

Juga Terjadi di Pajang
Tak hanya di Serengan, Kampung Totosari di Kelurahan Pajang, Kecamatan Laweyan, Kota Solo juga kebanjiran.Banjir diawali dengan hujan yang turun dengan intensitas tinggi sejak sore.

Tak hanya itu, hujan deras yang terjadi di wilayah Boyolali juga menyebabkan air Kali Jenes meluap lebih cepat dari biasanya.Salah satu warga, Parwasih (56) mengaku panik saat air tiba-tiba naik pada Jumat (21/1/2022) sore kemarin."Panik, biasanya memang sering terjadi banjir, tapi nggak tahu kemarin itu kok segitu besarnya," katanya kepada TribunSolo.com, Sabtu (22/1/2022).

Parwasih mengetahui telah terjadi banjir, ketika petugas SAR datang dan memberitahukan telah terjadi banjir.Ia melihat air sudah sampai di depan rumahnya, padahal rumahnya berada di permukaan yang lebih tinggi.Kemudian, ia dengan segera menyelamatkan barang berharga di rumah dan mengungsi di pinggir rel kereta api karena air semakin membesar.

Karena air yang cepat naik, membuat sebagian warga tidak sempat menyelamatkan barang-barangnya.Perabotan rumah tangga seperti kompor dan kulkas juga terendam banjir, bahkan sepeda motor pun terpaksa ditinggal di dalam rumah karena terburu-buru menyelamatkan diri.
"Karena tahu-tahu air sudah meluap, nggak sempat beres-beres, itu kulkasnya hanya dibersihkan saja kemudian dijemur, nggak tahu bisa dipakai nggak lagi nanti," terangnya.

"Sepeda motor itu milik tetangga saya, karena mau diungsikan sudah penuh airnya, ya harus bagaimana lagi, terpaksa dibiarin di situ," terangnya.

Sering Terjadi Banjir
Ketua RT 01 Kampung Totosari, Mulyoko (51) mengatakan wilayahnya sering tergenang banjir setiap tahunnya."Kalau disini sering, bisa dibilang langganan banjir, hampir setiap tahun banjir, tapi kalau besar seperti ini setiap 4 tahun sekali," katanya.
Selain banjir yang terjadi pada Jumat (21/1/2022), pada 1 Januari 2022 lalu, juga sempat terjadi banjir.
Namun, menurutnya banjir pada 1 Januari lalu tidak sampai masuk ke dalam rumah.

"Tanggal 1 Januari itu juga banjir, tapi nggak besar, tidak sampai masuk rumah warga, hanya di jalan saja," ujarnya.Informasi yang dihimpun TribunSolo.com di lapangan, banjir besar di Kampung Totosari juga pernah terjadi pada tahun 1987.

Kemudian, tahun 1993 juga pernah terjadi banjir besar.Puncaknya, pada tahun 2016 lalu, dimana ketinggian air mencapai 2 meter yang membuat rumah warga tenggelam, hanya terlihat atapnya saja.
"Kalau 2016 paling tinggi, sampai 2 meter, bahkan PLN sampai harus mematikan jaringan listrik," kata Mulyoko.Di tahun 2021, banjir juga menggenangi jalan warga pada bulan Juni kemarin.Dan banjir besar kembali terjadi pada 2022, yang mana banjir mencapai ketinggian 1,5 meter. (*)